Melampaui Mitos: Ruwat Sukerta, Upacara Tradisional Jawa Penolak Bala dan Penyucian Diri

Melampaui Mitos: Ruwat Sukerta, Upacara Tradisional Jawa Penolak Bala dan Penyucian Diri | Foto : Cak Lubis Prapanca

JATIM – Dalam khazanah kebudayaan Jawa, konsep nasib dan keberuntungan sering kali dikaitkan dengan kondisi fisik maupun silsilah kelahiran seseorang. Salah satu tradisi yang hingga kini masih lestari sebagai upaya untuk mencari keselamatan adalah ritual Ruwat Sukerta.

Upacara ini bukanlah sekadar seremonial, melainkan sebuah bentuk pengharapan spiritual untuk membersihkan diri dari nasib buruk, kesialan, atau sengkala energi negatif yang diyakini menghambat kehidupan seseorang.

Mengenal Sosok Sukerta

Dalam kepercayaan masyarakat Jawa, terdapat istilah Sukerta yang merujuk pada individu dengan kondisi kelahiran tertentu yang dianggap rentan terhadap gangguan atau kesialan. Kondisi yang dimaksud meliputi:

  • Anak Tunggal: Anak yang lahir tanpa saudara kandung.
  • Kembar Dampit: Anak kembar yang berjenis kelamin laki-laki dan perempuan.
  • Kondisi Spesifik Lainnya: Kelahiran dengan tanda atau situasi yang menurut pakem tradisi dipandang memerlukan pembersihan spiritual.

Individu yang masuk dalam kategori ini diyakini memiliki "beban" bawaan yang harus dinetralkan melalui ritual khusus agar perjalanan hidupnya menjadi lebih tenteram dan terhindar dari mara bahaya.

Wayang Kulit Murwakala sebagai Inti Ritual

Puncak dari tradisi Ruwat Sukerta adalah pertunjukan Wayang Kulit Lakon Murwakala. Dalam pementasan ini, sang dalang bertindak sebagai medium spiritual yang membacakan doa-doa keselamatan (mantra) untuk memohon perlindungan kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Tokoh utama dalam lakon ini, Batara Kala, digambarkan sebagai sosok yang gemar memangsa manusia-manusia sukerta. Melalui alur cerita yang disajikan dalam wayang, dilakukan simbolisasi penaklukan terhadap energi negatif tersebut.

"Ritual ini adalah manifestasi kearifan lokal Jawa yang menekankan pada keseimbangan dan kesadaran spiritual. Bukan untuk menyekutukan Tuhan, melainkan sarana introspeksi diri dan permohonan agar seseorang terlepas dari sengkala yang dianggap menghalangi jalan hidupnya," ujar seorang budayawan lokal.

Menjaga Tradisi di Era Modern

Meski zaman telah berubah, Ruwat Sukerta tetap dipraktikkan oleh sebagian masyarakat Jawa, baik di perdesaan maupun perkotaan. Bagi para pelaku, ritual ini merupakan bentuk ketenangan batin. Selain sebagai upaya "pembersihan", prosesi ini juga menjadi pengingat bagi anggota keluarga untuk selalu mawas diri dan bersikap rendah hati dalam menjalani kehidupan.

Hingga hari ini, Ruwat Sukerta tetap menjadi bukti bahwa tradisi lisan dan pertunjukan wayang masih memiliki tempat yang kuat dalam membantu masyarakat mengelola kecemasan akan nasib, sekaligus melestarikan kekayaan budaya Nusantara.