Antara Karomah dan Congkak: Menelusuri Jejak Sejarah Istilah "Ngustur" dalam Jati Diri Jamaah
Antara Karomah dan Congkak: Menelusuri Jejak Sejarah Istilah "Ngustur" dalam Jati Diri Jamaah
Dalam dialektika keseharian masyarakat spiritual atau jamaah tertentu, sering kali muncul istilah-istilah unik yang menjadi cermin perilaku seseorang.
Salah satu yang paling populer dan masih kerap terdengar hingga saat ini adalah sebutan "Custur" atau perilaku "Ngustur". Istilah ini bukan sekadar kata tanpa makna, melainkan sebuah personifikasi bagi mereka yang cenderung meninggikan derajat sendiri atau merasa paling hebat (pol dewe). Namun, siapakah sebenarnya Custur, dan bagaimana namanya bertransformasi dari seorang tokoh nyata menjadi sebuah label perilaku sosiologis?
Persahabatan Empat Serangkai (1918–1929)
Sejarah mencatat bahwa antara tahun 1918 hingga 1929, terjalin persahabatan yang sangat kuat di antara empat pemuda asal Kediri yang sedang menempuh pengembaraan ilmu dari satu pesantren ke pesantren lain. Mereka adalah:
- Madkhal (yang kelak dikenal sebagai KH. Nurhasan atau Madegol), yang dikenal memiliki karomah unik sejak di pondok.
- Jamat, santri yang menguasai ilmu jiret (kemampuan melepas ikatan tali yang kuat hanya dengan iringan tembang).
- Sabiran, sosok "donatur" kelompok karena latar belakang keluarga kaya yang selalu menanggung biaya hidup teman-temannya.
- Custur, sosok yang memiliki kesaktian luar biasa dalam ilmu kanuragan.
Ironi Ilmu Kesaktian Custur
Custur bukanlah orang sembarangan dalam hal olah kanuragan. Ia memiliki kemampuan regenerasi tubuh yang ajaib; jika kulitnya disayat pisau hingga robek, ia cukup meludahi telapak tangannya dan mengusapkannya ke luka tersebut, maka seketika luka itu menutup rapat tanpa bekas.
Namun, di sinilah letak tragedi karakternya. Alih-alih menggunakan ilmu tersebut untuk ketenangan batin, Custur justru terjebak dalam ambisi untuk diakui sebagai sosok yang paling unggul (pol dewe).
Ia sering meminta teman-temannya menyayat wajahnya dengan silet hanya untuk memamerkan kesaktiannya. Akibat frekuensi sayatan yang terlalu sering, wajahnya justru menjadi buruk rupa karena tumpukan bekas luka, sebuah ironi bagi seseorang yang ingin terlihat hebat.
Tragedi Balai Desa: Akar Istilah "Ngustur"
Puncak dari perilaku "Ngustur" ini terekam jelas saat ia mencalonkan diri dalam pemilihan kepala desa. Di saat calon lain menjawab absen panitia dengan sopan dan bersahaja, Custur justru berdiri di atas kursi dengan angkuh saat namanya dipanggil, sembari menoleh ke kanan dan ke kiri untuk memastikan semua mata tertuju padanya.
Ia merasa bahwa dengan kombinasi kesaktian dan keberaniannya, dialah yang paling pantas memimpin. Namun, masyarakat justru melihatnya dengan rasa iba (gak mentolo nyawang) karena ia kehilangan sopan santun dan kebijaksanaan, tertutup oleh ambisi pribadinya.
Refleksi: Ngustur vs Mbah Manan
Sejak peristiwa itulah, nama Custur diserap menjadi istilah "Ngustur" bagi jamaah. Istilah ini ditujukan kepada orang-orang yang:
- Merasa paling kaya dan menuntut dihargai secara berlebihan.
- Merasa berpangkat tinggi dan haus akan penghormatan.
- Menjalankan tugas dalam jamaah dengan sikap sombong, bahkan mudah marah hingga menunjukkan simbol kekuatan (seperti keris atau pengaruh) jika merasa tidak dihormati.
Fenomena "Ngustur" ini sangat kontras dengan sosok Mbah Manan. Jika Custur mengejar pengakuan manusia dengan pamer kekuatan, Mbah Manan justru sebaliknya. Sebagai orang yang sebenarnya terpandang dan dihormati, Mbah Manan memilih mengesampingkan pangkat dan kehormatannya demi mengejar rida Allah.
Beliau memilih menjadi jamaah biasa yang konsisten dalam ketaatan, sadar bahwa pengakuan di mata Sang Pencipta jauh lebih utama daripada sekadar tepuk tangan manusia.
Penutup
Kisah Custur adalah pengingat abadi bagi kita semua. Bahwa kelebihan ilmu, harta, maupun jabatan, jika tidak dibarengi dengan kerendahan hati (tawadhu), hanya akan membuat seseorang menjadi "buruk rupa" secara sosial dan spiritual. Menjadi jamaah yang taat seperti Mbah Manan jauh lebih mulia daripada menjadi sosok yang merasa paling hebat namun kehilangan jati diri sebagai hamba.
Swarajawa.my.id – Menggali Makna, Menulis Peradaban

Join the conversation