Pengertian dan Eksistensi Kepercayaan Terhadap Tuhan YME
JAWA TIMUR - Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa adalah bentuk spiritualitas asli, tradisi, serta pandangan hidup (weltanschauung) warisan leluhur nusantara yang telah ada jauh sebelum agama-agama pendatang masuk ke Indonesia. Penghayat kepercayaan tidak menginduk pada agama formal tertentu, melainkan mendasarkan penghayatan spiritualnya pada hubungan langsung antara manusia, pencipta (Tuhan YME), sesama makhluk, dan alam semesta.
Eksistensi penghayat kepercayaan di Indonesia kini makin memiliki kepastian hukum dan ruang inklusif di tengah masyarakat, khususnya sejak Putusan Mahkamah Konstitusi (MK) Nomor 97/PUU-XIV/2016 yang mengakui hak administrasi kependudukan bagi para penghayat kepercayaan.
Peringatan Hari Kepercayaan Terhadap Tuhan YME (13 Juli) menjadi momentum penting untuk:
- Mengakui Keberagaman Spiritual: Memperkuat pengakuan negara dan masyarakat terhadap eksistensi spiritualitas lokal.
- Pelestarian Budaya & Tradisi: Merawat ajaran luhur leluhur agar tidak tergerus oleh era modernisasi.
- Membangun Kerukunan Lintas Faith/Agama: Menjadi ajang silaturahmi untuk memperkuat kohesi sosial dan bingkai Kebhinnekaan bangsa Indonesia.
Merawat Tradisi, Memperkuat Spiritualitas: Merayakan Hari Kepercayaan Terhadap Tuhan YME sebagai Simbol Kebhinnekaan di Mojokerto
ABSTRAK
Peringatan Hari Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa merupakan sarana refleksi sekaligus afirmasi atas identitas budaya dan spiritualitas asli Nusantara. Penelitian/Catatan lapangan ini mengulas penyelenggaraan Peringatan Hari Kepercayaan Terhadap Tuhan YME tahun 2026 yang dilaksanakan oleh DMW MLKI Jawa Timur di Trowulan, Mojokerto. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif-deskriptif, artikel ini menyoroti bagaimana perayaan ini tidak hanya menjadi wujud syukur atas pengakuan konstitusional, melainkan juga wahana perjumpaan lintas iman dan pelestarian seni budaya. Hasil dari kegiatan ini menunjukkan bahwa kolaborasi antara pemerintah, organisasi penghayat, tokoh lintas agama, dan akademisi mampu menciptakan ruang dialog inklusif yang memperkokoh persatuan bangsa.
1. PENDAHULUAN
Keberagaman bangsa Indonesia tidak hanya tercermin dari suku dan bahasa, tetapi juga dari spiritualitas penghayatan nilai-nilai ketuhanan. Pada tanggal 25 Juli 2026, Dewan Musyawarah Wilayah Majelis Luhur Kepercayaan Terhadap Tuhan YME Indonesia (DMW MLKI) Provinsi Jawa Timur menyelenggarakan peringatan Hari Kepercayaan Terhadap Tuhan YME di Pendopo Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah XI Jawa Timur, Trowulan, Kabupaten Mojokerto.
Dengan mengangkat tema "Menjaga Tradisi, Memperkuat Spiritualitas Bangsa", kegiatan ini menjadi manifestasi rasa syukur atas ditetapkannya Hari Kepercayaan Terhadap Tuhan YME setiap tanggal 13 Juli. Pemilihan lokasi Trowulan—sebagai pusat peninggalan Kerajaan Majapahit semakin mempertegas akar sejarah dan kebudayaan ajaran leluhur tersebut.
2. ISI & PEMBAHASAN
a. Sinergi Pemerintah dan Penghayat Kepercayaan
Kehadiran jajaran birokrasi dan penegak hukum, seperti Kepala BPK Provinsi Jawa Timur (Ibu Endah Budi Haryanti), Kepala Bakesbangpol Prov. Jatim (Bp. Nurul Anshori, S.Pd., M.M.), serta perwakilan Kejaksaan Tinggi Jatim, menunjukkan komitmen pemerintah daerah dalam mengayomi hak-hak kewarganegaraan para penghayat. Dukungan ini disambut baik oleh jimpinan pimpinan penghayat, seperti Presidium MLKI Pusat (Bp. Naen Soeryono, S.H., M.H.) dan Ketua Puanhayati Pusat (Ibu Dian Jennie, S.Sos.).
b. Ruang Inklusif Lintas Iman dan Akademisi
Acara ini tidak sekadar ritual internal, melainkan ruang perjumpaan inklusif (inclusive space). Kehadiran pelbagai komunitas lintas iman seperti:
- Indonesia Merayakan Perbedaan (IMP)
- Roemah Bhinneka
- Gusdurian Jawa Timur
- Forum Beda Tapi Mesra
serta partisipasi perguruan tinggi (UIN SATU Tulungagung, Universitas Ciputra, Universitas Widya Mandala) membuktikan bahwa keberadaan penghayat kepercayaan diterima sebagai bagian integral dari ekosistem sosial dan akademik bangsa.
c. Ekspresi Budaya sebagai Simbol Ungkapan Syukur
Peringatan ini diisi dengan ritual pemotongan tumpeng sebagai ungkapan rasa syukur kehadirat Tuhan YME. Selain itu, pementasan seni seperti Tari Remo, Tari Banyuwangi, serta lantunan lagu kebangsaan menegaskan bahwa spiritualitas kepercayaan dan pelestarian seni budaya lokal merupakan dua hal yang saling melengkapi.
3. KESIMPULAN
Peringatan Hari Kepercayaan Terhadap Tuhan YME di Trowulan, Mojokerto tahun 2026 sukses menjadi momentum penting dalam menjaga tradisi dan memperkuat spiritualitas bangsa. Melalui sinergi antara pemerintah, tokoh lintas agama, dan akademisi, perayaan ini membuktikan bahwa penghayatan kepercayaan terhadap Tuhan YME merupakan modal sosial penting dalam merawat kerukunan, toleransi, dan nilai-nilai Luhur Nusantara di era modern.


Post a Comment