Hukum Adat Yang Paling Sederhana
Hukum Adat Yang Paling Sederhana
Endah Endah Koeswantoro / Dokpri |
MATRA | Cerita kecilku untuk Keluarga MATRA: Dari kehidupan se hari hari bisa kita lihat, betapa lucunya ketika mendengar anak anak kecil ngobrol membahas sesuatu, atau berebut mainan atau saling ledek atau bermain kelereng ada yang kalah yaa masih banyak lagi persoalanan dunia anak anak, bahkan ada yang sampai menangis berantem fisik dan saling ngotot adu argumentasi. Namun kebanyakan berakhir dengan damai ,setelah mencapai kesepakatan yang menjadi tujuannya atau menemukan win win solution dengan cara anak anak juga.
Sebenarnya dunia bermain anak itu banyak manfaatnya, disitu anak diajarkan bagaimana menemukan jawaban dari kesulitan yang dihadapi bersama teman dan lingkungannya.
Anak belajar cerdas mampu mengambil keputusan dengan caranya dari lingkungan dunia bermain.
Dari kejadian seperti itu kita bisa lihat karakter masing masing anak. Dan lucunya lagi bila dalam obrolan kecil itu ada salah satu anak yang bijak dan bisa jadi penengah dengan menjelaskan jalan keluar dari persoalan yang diperdebatkan.
Tak lama kemudian terdengar tawa canda mereka dengan riang seolah tidak persoalan yang baru saja terjadi, bahkan ketika mau pulang ke rumah masing masing masih sempat bikin janji besok bertemu dan bermain lagi.
Ini sangat menarik untuk direnungkan, betapa jiwa anak yang masih bersih lugu itu menemukan cara bersosialisasi bertenggangrasa dan bisa memecahkan persoalan mereka dengan caranya yaitu cara berkomunikasi yang tanpa disadari bahwa mereka telah belajar tentang hukum adat yaitu "Musyawarah Mencapai Mufakat" Bukankah seperti juga dilakukan terus sampai dewasa bila terjadi sesuatu masalah yang melibatkan banyak orang maka akan di selesaikan dengan Musyawarah terlebih dahulu?
Jadi pertanyaannya: Mengapa masyarakat kita ketika mendengar kalimat Hukum Adat berpikir itu kuno atau hah itu jaman kerajaan dulu atau yang lebih ekstrem lebih menghormati hukum dari leluhur bangsa lain.
Padahal sangat jelas bangsa kita mempunyai karakter yang beda sebagai jatidiri bangsa yang berbudi pekerti dan santun, dalam tanda kutip santun bukan berarti lemah lembut dan takut menghadapi ancaman dari siapapun, terutama bila menyangkut harga diri dan marwah Bangsa dan Negara. Kembali lagi betapa hebatnya Sila ke 4 dari PANCASILA sebagai Dasar Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Hehehe sementara segitu dulu nggih..saya akan berceloteh lagi bila nemu inspirasi dari kejadian disekitar rumahku. Maturnuwun. Rahayu Salam Budaya Nusantara.
Mojokerto Rabu 28 Februari 2024.

Join the conversation