Di Ambang Batas Mentari Jingga
MATRA MOJOKERTO | Puisi kecilku untuk Keluarga Matra. Mojokerto 26 Maret 2024. Terhenyak meski hanya sejenak. Berontak tapi aku bukan pemain watak.
Kegagahan diatas ganasnya ombak adalah juga kasatriya meski atribut Perompak. Merenungi kekhilafan diri mengasah tajamnya naluri.
Bahasa yang tersirat mampu terbaca meski tanpa menatap raut muka. Yang tersembunyi berikan isyarat samar lewat angin yang bernyanyi kidung sunyi.
Tak kesahlah beri alasan berbelit lidah berucap dusta. Lenyap sudah bahkan tanpa warna menghias badai nan berakhir ironi. Rasa percaya itu terbang tak tersisa tersapu beliung semesta.
Tak berharap ada karena memang sudah musnah. Tak ada karena tak pernah ada.
Nafas pun seolah terengut dengan paksa sebelum waktunya.
Tak kan ingin kulihat yang tak ingin lagi kulihat meski itu fatamorgana. Mentari jingga lebih paham menghitung masa kapan tenggelam pun kapan terbangun membiaskan senyumnya. Takdir Jaman menjalani alur yang sudah tersedia pada pijakan yang sudah ditetapkannya.
Tak ada lagi tempat untuk sembunyi bayangan diri selalu mengikuti. Cinta Nagari perankan lakon dalam ikatan bela pati dan bhakti pada Sang Pertiwi. Rahayu Kagem Sesami.
Dewi Kushmanda.
Join the conversation