Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Test link

Oleh Oleh dari Bantaran Kali Serinjing Kediri

Bopo Mariani dan Bunda Darmini Dua Tokoh Matra dari Kediri.


MATRA MOJOKERTO | Kediri ,Minggu 24 Maret 2024 di bantaran Kali Serinjing Dusun Kedung Cangkring Desa Jambu Kecamatan Kayen Kidul Kabupaten Kediri menampakkan atmosfir yang beda dengan malam malam sebelumnya. Harum dupa dan bunga sesaji menyeruak lembut menerpa ujung hidung, gendhing Mantram mengalun syahdu membisik ditelinga siapapun yang mendengarnya.

Gemricik air menyanyikan nada yang menyatu menjadi harmonisasi kidung malam dari para pelantun swara ditepi semak dan seruit gesekan pohon bambu berpelukan erat dalam cinta kasih semesta.

Raga raga linuwih yang hadir menebar senyum persaudaraan membangun ikatan emosi jiwa yang rindu pada kedamaian dan belaian Hyang Pertiwi. Putri nan ayu selalu nampak sibuk menata sesaji, menyuguhkan makanan untuk para tamu para putra putri Nagari, Dialah Bunda Dewi putri Kediri yang mengayomi tingkah polah sesami..lihatlah Hyang Bagawanta memujimu wahai sang Dewi.

Ceritaku untuk Keluarga Matra

Pujian mantram suci dilantunkan dengan indah merasuk kalbu oleh Ki Budi Sejati oleh putra Kediri, dalam Doa lintas Agama ber kumandang bergantian dari Kristen Protestan oleh Romo Katiman,dari Katolik olek Romo Adi Sutanto,dari Agama Islam oleh Gus Adi Suwarno dan dari Hindu oleh Romo Pinandito Ida Jagad Manik, semesta menjawabnya tanpa aksara namun Hyang Dewi Gangga dan Hyang Anantaboga yang menari tumurun tedhak ing marcapada lewat Hyang Bayu yang bersenandung menebar percikan embun membasah Sang Ibu yang merindu.

Kahyuangan membuka gerbang terhipnotis tangisan pedih berurai airmata putra wayah yang tersia dialam fana, Leluhur Nuswantara dan para Dewa tersenyum haru sambil berbisik " Duuh anak angger betapa lamanya kami menanti pulihnya kesadaranmu dan ingatanmu tentang kami, berkah kesejahteraan dan keselamatan menyertaimu dari Hyang Maha berKehendak ya ngger".

Semua makhluk bernyanyi dengan caranya namun meski berbeda nada dan intonasinya..koor nyanyian semesta puja puji kan rasa terimakasih atas kehidupan dan Hyang menghidupkan.

Disudut berbeda diantara wanginya sesaji dan ubo rampe Hyang Dewi Srie dan Hyang Bagawanta duduk anggun menabur senyum keharuan jua melihat anak anak manusia yang baru pulih kesadarannya aahh mereka bukan domba yang hilang namun hanya terlena oleh nyanyian sorga fatamorgana dari sebuah cerita.
Gunung Kelud tidak ganas anakku, Dia tau bila marah pasti ada tempat untuk berlindung yang sudah diurapi dengan rajah para Dewa, menyeberanglah ke utara Kali Serinjing ngger , disana api kemarahanku tidak akan mau menyentuhmu. Pesan Hyang Brahma dengan bijak.

Mantram bahasa Jawa yang khas telah menggema kembali di bumi ini, Eyang Anwar melantunkannya untuk menutup cerita malam ini agar terdengar kembali setahun lagi , dan sukacita membiaskan itu rasa cinta kasih sayang yang menyatukan perbedaan diantara kita dan benarlah langkahmu dengan tegar tegap tegak lurus pada jejibahan Agung untuk Nagari beriring dengan para brahma pinandita dan maharsi yang terpilih untuk menjaga peradaban melalui lantunan mantram suci puja puji kagem Hyang Pertiwi. Hyang Bagawanta Baari tak pernah ingkar janji dan Kali Serinjing adalah bukti lintas jaman dan dimensi dalam masa bhaktinya untuk Negri pancaran kehangatan Sang Mentari tiada pernah henti. Rahayu Salam Cinta Ibu Pertiwi.

MATRA (Masyara
kat Adat Nusantara) Mengucapkan Selamat Hari Jadi Kediri ke 1220 tahun langkah pasti kejayaan menanti.


Endah Koeswantoro.
Foto: Sukardi Kediri.